Cinta itu Ftrah
Jika berbicara tentang cinta, ini merupakan topik yang sangat menarik, terutama di kalangan remaja. Wajarlah jika laki-laki dan perempuan timbul rasa suka dan cinta. Dewasa ini kata “Cinta” memang tak lagi asing terdengar oleh kita disemua lapisan masyarakat, baik itu anak-anak, remaja apalagi, bahkan dewasa. Kata “cinta” yang diumbar-umbar hingga ke penjuru duniapun tahu.

Cinta adalah pemberian Allah swt atas karunia-Nya. Lha bila cinta adalah karunia Allah, mustahil bukan Allah mengaruniakan yang buruk? Allah menanamkan rasa cinta dalam hati kita sebagai bentuk dari pada Cinta-Nya kepada kita agar kita senantiasa mengingat-Nya, Yang Maha Cinta.

Cinta adalah fitrah dan indikasi kedewasaan. Bila anda pernah merasakan jatuh cinta, maka penulis ucapkan selamat karena tandanya anda masih normal dan baik-baik saja. Setiap manusia dikaruniakan cinta oleh-Nya. Jadi tiada salah bila seseorang merasakan cinta. Akan tetapi banyak cara yang salah mengekspresikan cinta, sehingga dia terperdaya dengan cintanya.

Allah memberikan rasa cinta antar lain jenis, sama seperti Allah jadikan rasa cinta manusia terhadap apapun yang dia inginkan di dunia ini; harta, kedudukan, jabatan dll. Akan tetapi cinta yang hakiki hanyalah cinta pada-Nya.

Celakanya remaja masa kini mengekspresikan cinta melalui hubungan tanpa ikatan yang sah populer di kalangan remaja dan dewasa dengan sebutan pacaran alias in Relationship yang kini populer di media sosial, facebook, twitter, dan semisalnya. Ini adalah salah satu tipu daya setan untuk menjerumuskan anak manusia. Budaya pacaran yang menjadi tren remaja masa kini diadopsi dari budaya barat yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Bagaimana tidak menyimpang? Wong belum ada ikatan yang sah sudah berani prgangan tangan, kemudian pelukan, kemudian ciuman, kemudian dan kemudian berakhir pada penyesalan dan derai tangis yang tak karuan. Budaya barat yang diadopsi tanpa filter membuat manusia kini semakin bobrok dan terjadi kekacauan dimana-mana. Norma-norma tak lagi dihiraukan. Hanya mementingkan kesenangan sesaat yang pada akhirnya datang penyesalan.

Allah memang mengaruniakan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, namun bukan berarti kita lantas bebas mengekspresikan cinta sesuai dengan kehendak kita, bukan seperti yang kita inginkan. Ada masanya, ada caranya dan ada aturannya. Karena itulah, Islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia, bukan hewan yang bebas berekspresi saat mereka jatuh cinta.(Siauw, Felix, 2013).

Lihat saja masyarakat barat yang umumnya lebih bebas mengekspresikan cinta. Alhasil, cinta yang semulanya sakral menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral dan romantis lagi, kecuali tersisa dalam film-film saja. Islam memandang cinta itu agung dan suci, karenanya perlu diatur dan aturannya itu tidak tanggung-tanggung langsung dari Pencipta alam semesta Allah l.

What…??? Pacaran Islami?
Kata “Pacaran Islami” sering dengar bukan? Ini dalil yang benar-banar keliru. “What…? Pacaran islami?” jangan-jangan ntar ada “Maling Islami” yang kalau mau maling ucap salam dulu اَلسَّلَامُ عَلَيكُم  ana mau maling dulu ya’. Waaahh, bisa kacau nih dunia.

Tidak pernah ada dalam al-Quran, al-Sunnah, ijtihad yang menghalalkan pacaran apalagi ada embel-embel islaminya. Oalah… Hey bung, bukan pacaran namanya kalau ga pegangan tangan, kissing, atau segala perbuatan lain yang meninggikan syahwat. Tidak diragukan lagi bahwa pacaran adalah jalan bebas hambatan menuju zina dan ini sangat memprihatinkan.

Pacaran ya pacaran kaga usah ada embel-embel islaminya juga kali. Wajar saja jika terjadi zina. Allah l berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’[17]: 32)

Jelas sekali bukan larangan Allah l dalam surat al-Isra’ ayat 32 diatas? Mendekatinya saja tidak boleh apalagi melakukannya. Na’udzubillah. Tak adakah rasa takut pada Allah l? Takut akan adzab-Nya yang pedih? Tak malukah kita pada Yang Maha Pencipta?

Ingatlah, dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju ke kehidupan yang abadi. Zina tidak hanya dalam konteks hubungan badan yang tidak halal,

Adapun macam-macam zina: 1) Zina al-lamam, meliputi zina ‘ain (zina mata) yaitu memandang lawan jenis dengan perasaan senang. Zina qalbi (zina hati) yaitu memikirkan atau mengkhayalkan lawan jenis dengan perasaan senang padanya. Zina lisan (zina ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis denag perasaan senang padanya. Zina yadin (zina tangan) yaitu memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang padanya.

Dan 2) Zina yang sebenarnya ada dua hal yaitu zina muhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang telah bersuami istri, hukumannya adalah dirajam sampai mati. Dan zina ghairu muhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang belum bersuami istri, hukumannya adalah didera sebanyak 100X dengan rotan

Wajar saja jika terjadi zina. Pertemuan yang rutin menghasilkan kesempatan-keempatan yang muncul secara acak atau kesempatan yang terencana. pasti akan selalu menyertai dua insan yang bukan mahram saat berdua-duaan dan pacaran memang enaknya cuma berdua, cocok. Ditambah lagi, budaya barat yang menjadi kiblat gaya hidup anak muda zaman sekarang. Raslullah ` bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita ,karena sesungguhnya setan menjadi yang ketiga diantara mereka berdua”

Karena Islam adalah agama yang preventatif. Allah l melarang keras untuk mendekati zina apalagi sampai melakukannya. Maka islam menutup semua jalan untuk menuju perzinaan. Selain zina merupakan dosa besar disisi Allah l. Perbuatan itu juga sangat merugikan bagi laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada dalam kamus islam yang namanya pacaran atau semacamnya itu, melainkan ta’aruf dan pernikahan. Pernikahan inilah menjadi jembatan untuk menyatukan dua hati yang saling terpaut karena Allah l. Pernikahan juga sebagai bentuk kecintaan kepada Rabbnya. Jika Cinta yang dibangun atas dasar kecintaan yang tinggi pada Allah l maka tak perlulah khawatir akan perjalanan cinta dalam pernikahanmu. Allah l yang akan menuntun kepada cinta yang hakiki.

Pacaran Tanda Main-main, Nikah Tanda Serius
Pernikahan di dalam Islam adalah sebuah ikatan suci, ikatan yang akan menghalalkan yang haram dan menyatukan dua insan dan keluarga. Pernikahan adalah pintu kebaikan yang bertebaran pada jalan-Nya dan juga bagian dari keindahan yang Allah beri di dunia. Lelaki dan wanita yang sudah mampu dan siap membina rumah tangga, maka boleh bagi mereka menentukan calon yang mereka sukai karena Allah l pun telah membolehkannya. Sesuai dengan firman Allah l dalam surat al-Nisâ ayat 3: “Nikahlah oleh kalian wanita-wanita yang kalian senangi” . (QS al-Nisâ’ [4]: 3)

Untuk para laki-laki sejati: laki-laki terhormat takkan pertaruhkan kehormatan wanitanya karena dia melindunginya dengan pandangan atau mengambilnya dengan pernikahan. Laki-laki sejati bukan yang banyak janji tetapi yang berani datangi wali atau menahan diri dari perkataan yang tak  pasti. Perlu muslimah sadari, laki-laki sejati tak pernah ajak pacaran karena enak sebatas masa dunia tak kaburkan yang Allah l janjikan dan karena keluarga sakinah yang mereka idamkan.

Jadi, berbanggalah para ikhwan dan akhwat yang jomblowan jomblowati. Karena anda semua adalah manusia langka perindu surga yang insya Allah selalu dalam naungan cinta-Nya. Perbaiki diri agar suatu saat nanti mendapat yang baik pula sesuai denga janji Allah l: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rizqi yang mulia (surga)”

Aturan Islam sangat sederhana. Bila cinta, datangi walinya dan menikahlah! Bila belum siap, persiapkan diri dulu dalam diam. Itulah tanda laki-laki sejati perindu surga. Islam tidak mengenal hubungan-hubungan pra-pernikahan semisal pacaran dan pertunangan. Faktanya, hubungan ini bukannya mengenalkan dua insan, malah merusak kedua insan.

Bila memang serius untuk menjalin hubungan jangka panjang atau komitmen, mengapa tidak menuju ke jenjang pernikahan? Bila memang cinta dan sayang mengapa akad tidak disegerakan? Bila masih punya alasan, artinya anda belum siap. Sederhana saja. Kalau belum siap, seharusnya tahu batas kemampuan diri dan jangan memulai apa yang tak bisa kau selesaikan.

Nikahi / Sudahi, Halalkan / Tinggalkan!
Jika engkau sudah mantab ingin menikah, maka datangi kedua orang tuanya atau walinya kenali lebih dalam dengan batasan yang telah ditetapkan syari’at. Kemudian jika hatimu telah mantap maka khitbahlah lalu menikahlah dengannya. Sesungguhnya menikah adalah sunnah Rasul dan sebagai penyempurna ibadahmu. Say No to Pacaran. Say Yes to Nikah… Deal?  Oke Deal. Nikah=Pahala. Pacaran=Dosa. Pilih mana? It’s your choice.[]

Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id


-----------------------------------------------------------------------------------